Langsung ke konten utama

Kumpulan Puisi : PENSIL PATAH

 


Judul : PENSIL PATAH

Penulis : Kasma, Selifiana, Risnawati, Ismail, Sukmawati, Putra, Riswan, Lina
Desain Sampul & Tata Letak  : Damar I Manakku
Tebal halaman 144 halaman
Ukuran buku : 14 x 20  cm
ISBN ; ( Masih dalam proses)
Genre : Sastra
Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan
Harga  : -
Website: www.penerbitpakalawaki.com

==================================

Seni adalah kekacauan dan keteraturan

Subarman Salim

 

Suatu waktu  di tahun 1949, Theodor Adorno berujar, “menulis puisi setelah Auschwitz adalah perbuatan barbar.” Adorno adalah seorang filsuf juga dikenal sebagai komposer berkebangsaan Jerman, namun dari ayahnya, ia juga mewarisi tradisi Yahudi. Auschwitz adalah kamp konsentrasi yang dibangun tentara Jerman di Polandia. Di sana, Nazi melakukan kekejaman paling mengerikan dan menjadi aksi genosida paling brutal dalam sejarah manusia.

Adorno mungkin khawatir, seni kiwari, banyak disalahgunakan untuk kepentingan kesenangan semata, atau atas tuntutan gairah konsumerisme. Budaya pop telah menyeret seni ke kubangan barbarisme industri kesenangan dan uang. Padahal, hakikat seni adalah upaya pencarian jiwa sejati manusiawi.

Mungkin karena hidup sezaman dengan Adolf Hitler, Adorno bisa tumbuh menjadi filsuf yang kritis sekaligus musisi yang kreatif. Dan itu mempengaruhinya dalam memberi penilaian terhadap seni yang mengabdi pada pasar, yang menurutnya sekadar penghibur masyarakat, tanpa kedalaman.

Seharusnya seni adalah antithesis masyarakat, kata Adorno. Dengan begitu seniman seharusnya tak bisa dikekang oleh aturan. Seperti Albert Camus yang menempatkan seni sebagai pemberontak, yang mengangungkan sekaligus mengingkari. Ironi. Sebagaimana yang ditulis dalam sebait puisi Putra, "Walaupun tidak menyukai aturan, bukan berarti menyukai kekacauan." 

Atau, mungkin semua adalah tentang orientasi, kepada apa atau siapa ia mengabdi. Karena, faktanya, banyak seniman menggunakan karyanya untuk mencari kekuasaan dan prestasi politik, kata Leon Trotsky.

Dan seniman yang manusia, nyatanya tak bisa mengelak nasib, mereka tak mampu keluar dari masyarakat, sekuat apapun yang mereka mampu. Dan meski Chairil Anwar telah mewanti-wanti bahwa “nasib adalah kesunyian masing-masing,” tapi Risna menolak kesunyian. Yang ia harapkan adalah pendamping bukan hanya untuk “menemani di keramaian,” tapi juga “bersama pada saat sepi.”      

Kita bisa berdebat tentang selera terhadap seni, sambil berusaha tetap memahami bagaimana seni bisa bebas dari determinasi budaya dan berbagai bentuk komodifikasi, terdengar ilusif di era metadata. Sayangnya, Adorno tidak hidup di era digital, dan karenanya tidak sempat menyaksikan bagaimana pasukan Artificial intelligence (AI) bisa menggambar, membuat puisi, menulis esai, main catur, bahkan mengaransemen musik.

Apakah seni yang diciptakan AI adalah perbuatan barbar? Di perguruan tinggi, berapa banyak mahasiswa yang mulai mengambil keuntungan pada mesin pencari google untuk kebutuhan penyelesaian skripsi?

Apa pun yang bisa dilakukan AI -setidaknya hingga hari ini-, tetap butuh asupan data dari banyak manusia. AI menghadirkan karya seni sesuai hasil olah data dari ragam aktivitas dan kecenderungan masyarakat. Artinya, no data, no AI. Lagi-lagi, Adorno akan menyampaikan protes: tidak ada kedalaman dari seni yang diciptakan oleh AI…!

Seni yang barbar yang ditentang Adorno, bisa jadi lahir dari trauma melihat para seniman, ilmuan dan para akademisi dibantai pasukan Nazi. Mereka memang gagal menghentikan kebrutalan Hitler, tapi mereka berhasil membawa pesan kepada dunia, bahwa seni dan pemberontakan adalah dua hal yang memang tak terpisah.

Tak ada status quo dalam seni sebagaimana pemberontakan yang kadang harus menolak pikiran dan menentang perasaan sendiri. Dalam seni, kekacauan, kegamangan, kebingungan dan paradoks-paradoks adalah prakondisi yang dibutuhkan. Atau “jika sesuatu terlalu indah untuk menjadi nyata, mungkin memang begitu,” kata Sidney Sheldon.

Di dunia nyata, Risna di Pattiro Sompe, gagal mempertahankan pernikahannya di usianya yang masih remaja. Dan, kekacauan akibat perceraian, mendorongnya untuk mendalami perasaan sendiri, memantiknya untuk menemukan konsep pemikiran sendiri, tentang dunia, tentang janji lelaki, dan tentang stigma janda.   

Dari Auschwitz bersama Adorno di awal abad ke-20 kita ke Cappa Ujung Bone di awal abad ke-21 bersama siswa PKBM Sulolipu yang ditugaskan membuat puisi. Tentu saja, misi kali ini bukan untuk mengecek apakah puisi mereka barbar atau pemberontak atau hanya ekspresi narsis yang nyaris dibekap neurosis. Gairah belajar adalah yang utama.

Kehadiran buku ini, dengan pemilihan judul Pensil Patah, tentu belum bisa menggambarkan hasil belajar. Tapi, keinginan menyelami pikiran, memilah perasaan, lalu menyusunnya menjadi puisi adalah pisau-pisau yang mereka butuhkan untuk kembali meraut pensil yang terlanjur patah.    

Akirnya, selamat kepada para penulis yang pembelajar. Juga kepada PKBM Sulolipu yang berhasil menemukan para mentor andal. Belajar bersama ini sungguh menyenangkan. Itu bisa mengobati kerinduan mereka pada sekolah. Itu bisa dipahami dari bait-bait sajak yang disusun oleh Selfiana dari Cappa Ujung, “Sepanjang rimba pikiran, ingatan adalah hewan buas, Aku kerap lumpuh, dicakar-cakar rindu.”  





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asu Panting Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng

   ============================================== J udul: Asu Panting  Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng Penulis:  Hilman Editor:   Damar I Manakku Desain Sampul & Tata Letak:  Ramadhan S Penerbit:  Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Cet. I, Septeber 2025 viii + 229 hlm ; 14 x 20  cm ==================================== KATA PENGANTAR Mitos selalu hadir sebagai cermin kegelisahan manusia. Ia lahir dari perjumpaan antara rasa takut, imajinasi, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asu Panting , misalnya, sebuah cerita yang akhir-akhir viral di media sosial sebetulnya bukan sekadar kisah tentang makhluk gaib, melainkan penanda bagaimana masyarakat Bugis-Makassar membingkai relasi mereka dengan alam, dengan kegelapan, dan dengan dunia yang tak kasat mata. Sebagai penulis yang selama ini juga menaruh perhatian pada tradisi lisan, narasi rakyat, dan sejarah lokal, saya memandang buku ini penting buk...

Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan

  =================== Judul: Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan Penulis: Dr. Salam, M.Pd. Tata Letak: Muh. Syakir Fadhli Desain Sampul: Shakiru Daichi Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Tahun Terbit: 2024 Dimensi Cetak: 15.5 x 23 cm ===================   Buku ini diniati sebagai bahan ajar mahasiswa yang merangkum beberapa materi perkuliahan Psikologi Pendidikan di perguruan tinggi dengan menawarkan Konsep Dasar dan Tujuan sebagai rujukan sumber belajar yang akan dicapai sebagai berikut. Pertama, Buku ini diampuh oleh dosen pengampuh Matakuliah Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar,   Dr. Salam, M.Pd.        Kedua, Buku ini semula merupakan bahan perkuliahan psikologi pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia. Buku ini   disusun dalam 8 bab sebagai bahan ajar   mahasiswa yang terdiri dari 8 materi ajar setiap babnya. Bab 1 membahas mengenai konsep dasar dan tujuan psikologi pendidi...

Daeng Kanduruan, Guru yang Menulis Karya Sastra dan Aktif dalam Pergerakan

Ilustrasi tirto.id Penerbitpakalawaki.com- Pendidikan adalah upaya menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu pelaku dalam usaha ini tentu saja guru. Setiap tanggal 25 November yang jatuh pada esok hari, pemerintah memperingatinya sebagai Hari Guru. Hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden no. 78 tahun 1994. Salah seorang tokoh pendidikan sastrawan dan aktivis pergerakan yang kiranya jarang diketahui publik nasional adalah Daeng Kanduruan Ardiwinata (1866-1947).  Sang Kanduruan Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979, hlm.1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Kakeknya yang bernama Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lompo (besar) dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman, dan kakanya, Karaeng Balasuka.  Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempe...