Langsung ke konten utama

Badai di Rumah Kita

 



Judul:
Badai di Rumah Kita

Penulis: 
Riska Yuli Nurvianthi

Editor: Damar I Manakku

Desain Sampul & Tata Letak: Shakiru Daichi

Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan

Cet. I, Juni 2024
viii + 130 hlm ; 13 x 19 cm


===================

    Badai di Rumah Kita" adalah kisah tentang rumah tangga yang tampak sempurna namun terguncang oleh pengkhianatan. Sarah dan Reza adalah pasangan suami istri yang memiliki dua anak. Mereka bersahabat dengan Diana dan Rian, pasangan suami istri lainnya. Segalanya berjalan baik-baik saja sampai terungkap bahwa Diana berselingkuh dengan Reza.

    Pengkhianatan ini mengguncang kedua rumah tangga, menyebabkan konfrontasi, pertarungan dalam diri, dan akhirnya persiapan untuk sidang perceraian. Di tengah perjuangan mereka, Sarah harus menghadapi dilema besar tentang mempertahankan rumah tangganya atau meninggalkan Reza. Sementara itu, Diana dan Rian juga harus berjuang dengan rahasia gelap mereka yang terbongkar.

    Kisah ini menggambarkan keputusasaan, tetapi juga keteguhan hati seorang ibu dalam menghadapi badai kehidupan. Di ujung terowongan, ada cahaya bagi Sarah dan Diana untuk memulihkan dan mengubah hidup mereka. Dengan bantuan Tuhan dan tekad yang kuat, mereka akhirnya menemukan kebenaran, pemulihan, dan perubahan yang membawa kedamaian kembali ke rumah mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asu Panting Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng

   ============================================== J udul: Asu Panting  Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng Penulis:  Hilman Editor:   Damar I Manakku Desain Sampul & Tata Letak:  Ramadhan S Penerbit:  Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Cet. I, Septeber 2025 viii + 229 hlm ; 14 x 20  cm ==================================== KATA PENGANTAR Mitos selalu hadir sebagai cermin kegelisahan manusia. Ia lahir dari perjumpaan antara rasa takut, imajinasi, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asu Panting , misalnya, sebuah cerita yang akhir-akhir viral di media sosial sebetulnya bukan sekadar kisah tentang makhluk gaib, melainkan penanda bagaimana masyarakat Bugis-Makassar membingkai relasi mereka dengan alam, dengan kegelapan, dan dengan dunia yang tak kasat mata. Sebagai penulis yang selama ini juga menaruh perhatian pada tradisi lisan, narasi rakyat, dan sejarah lokal, saya memandang buku ini penting buk...

Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan

  =================== Judul: Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan Penulis: Dr. Salam, M.Pd. Tata Letak: Muh. Syakir Fadhli Desain Sampul: Shakiru Daichi Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Tahun Terbit: 2024 Dimensi Cetak: 15.5 x 23 cm ===================   Buku ini diniati sebagai bahan ajar mahasiswa yang merangkum beberapa materi perkuliahan Psikologi Pendidikan di perguruan tinggi dengan menawarkan Konsep Dasar dan Tujuan sebagai rujukan sumber belajar yang akan dicapai sebagai berikut. Pertama, Buku ini diampuh oleh dosen pengampuh Matakuliah Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar,   Dr. Salam, M.Pd.        Kedua, Buku ini semula merupakan bahan perkuliahan psikologi pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia. Buku ini   disusun dalam 8 bab sebagai bahan ajar   mahasiswa yang terdiri dari 8 materi ajar setiap babnya. Bab 1 membahas mengenai konsep dasar dan tujuan psikologi pendidi...

Daeng Kanduruan, Guru yang Menulis Karya Sastra dan Aktif dalam Pergerakan

Ilustrasi tirto.id Penerbitpakalawaki.com- Pendidikan adalah upaya menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu pelaku dalam usaha ini tentu saja guru. Setiap tanggal 25 November yang jatuh pada esok hari, pemerintah memperingatinya sebagai Hari Guru. Hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden no. 78 tahun 1994. Salah seorang tokoh pendidikan sastrawan dan aktivis pergerakan yang kiranya jarang diketahui publik nasional adalah Daeng Kanduruan Ardiwinata (1866-1947).  Sang Kanduruan Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979, hlm.1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Kakeknya yang bernama Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lompo (besar) dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman, dan kakanya, Karaeng Balasuka.  Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempe...