Dewi Srin, Aqila Khairiyah Hafidzah, Asiilah Syafiqah Bustam, Aya Shofiyah Akhyar, Ayyathul Husna Ridwan, Balqis, Ashilah Ramadhani, Eliana Nurpitasari, Fauziah Rafifah Hasban, Juliapriana, Kayla Athaya, Nabilah Fauziyah Rusyaid, Nafsih Nur Asyifah, Naura Azkadina Anas, Nur Nida Salsabilah, Rodhiyah Mardhiyyah, Siti Maisaroh, Azza Nur Fajriah, Fitah Kartini, Najwa Aliyah Ainun Rahman, Nur Nasya Khaeriyah, Sufiya Najwa Abzarah Jafar, Zulfa Nadhifa, Alana Mumtazah Efendi, Alya Ainun Jariah, Assyifah Wafa.Unnawa Ikhwan, Ibtisan, Masyita Khumairah Ridwan, Mufidah Masyurah, Muthmainnah, Muwafiqatul Izzah A, Najiah Buana Nur Ammary, Najwa Azzahra, Syahrani Qurratayyunin Andhah
Tidak semua rasa mampu diutarakan. Ada yang terkadang tersimpan berantakan dalam hati lalu tumbuh menjadi luka yang diam-diam dipeluk sendiri. Ada juga yang tersimpan rapi lalu tumbuh menjadi doa dan harapan yang selalu disemogakan. Dari situlah judul ”Yang Tak Sempat Menjadi Kata” lahir – mewakili perasaan yang pernah hadir namun terkadang tidak memiliki ruang untuk disuarakan.
Buku ini berisi catatan-catatan perasaan santri; tentang hari-hari yang penuh tawa kesederhanaan, lelah yang disembunyikan, mimpi yang diam-diam dilangitkan, juga perasaan yang sering kali hanya menetap dalam hati. Di balik gerbang pondok pesantren, tersimpan banyak cerita; tentang rindu, persahabatan, cita-cita, kegagalan, kekecewaan, harapan, dan perjuangan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Sebagai penulis, saya percaya bahwa setiap goresan tangan buku ini memiliki suara dan pemaknaannya masing-masing. Beberapa cerita mungkin terdengar ringan, juga terdapat cerita yang begitu dekat dan berat. Karena pada akhirnya, kita semua pernah memiliki sesuatu yang tak sempat menjadi kata.
Akhirnya, ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada semua penulis yang telah berani menuangkan segala isi hati dan pengalamannya di buku ini. Terima kasih juga kepada para pembaca yang bersedia singgah dan memahami tiap-tiap cerita yang tersimpan di dalamnya.
Semoga buku ini tidak sekadar menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga rumah bagi perasaan-perasaan yang sulit dijelaskan. Juga, menjadi pengingat bagi para penulis yang ada didalamnya, bahwa mereka hebat lebih dari kata “hebat” itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar