Langsung ke konten utama

Lontara Acculungeng Ogi: Cerita, Nilai dan Tradisi

 


==================================================

Judul:-

Lontara Acculungeng Ogi: Cerita, Nilai dan Tradisi

Penulis:

Maria Herlinda Dos Santos, Nurul Afni Darwis, Arnol, Iksan, Annisa

Salsabila, Muh. Amin, Muh. Yunus, Alim Nur, Arman Arjuna, Ferdi, Adnan

Annur, Muh. Tang Rustan, Muh. Taufiqurrahnman, Muhammad Haerul,

Riski Aditya, Muh. Fadlan, Supirman Rais, Firdaus, A. Aril Subastian, Edi

Kurniawan, Muhammad Iksar, Ilham Febriansyah, Muh. Akbar Al Farisi,

Muh. Syahril, Muh. Sulpadli, Kasmiati, Fatmasari, Andi Mandasini, Suci

Muliya, Ani Sapitri, Tiara Ramadani, Riska Jaya, Ahmad Muhaeming, Febi

Astriananta, Muhammad Iksan, Raswan Yahya

Editor: 

Damar I Manakku

Desain Sampul & Tata Letak: 

Damar I Manakku

Penerbit: 

Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan

Cet. I,Juli
viii + 234  hlm ; 15,5 x 23 cm

ISBN

(dalam proses)

Ketersediaan Buku:

Tersedia

=====================================================================


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya buku Lontara Acculungeng Ogi: Cerita, Nilai, dan Tradisi dapat diselesaikan dan dihadirkan kepada para pembaca. Buku ini merupakan hasil kerja bersama para penulis yang memiliki perhatian

terhadap permainan tradisional sebagai bagian penting dari warisan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Permainan tradisional bukan sekadar hiburan. 

Didalamnya tersimpan nilai kebersamaan, sportivitas,keberanian, kreativitas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta cara masyarakat membangun hubungan dengan lingkungan dan sesamanya. Melalui buku ini, kami berupaya mendokumentasikan beragam permainan tradisional sekaligus memperkenalkan sejarah, daerah asal, nilai mitos, nilai budaya, nilai sosial, teknik, dan cara memainkannya.


Penyusunan buku ini dilandasi oleh kegelisahan terhadap semakin berkurangnya ruang bermain tradisional di tengah perkembangan teknologi digital. Perubahan zaman memang tidak dapat dihindari, tetapi ingatan terhadap permainan yang diwariskan oleh para pendahulu tidak seharusnya hilang. Buku ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan pengetahuan budaya yang tumbuh

dari kehidupan masyarakat.


Kami menyadari bahwa setiap permainan dapat memiliki nama, aturan, bentuk, dan pemaknaan yang berbeda di setiap daerah. Tradisi lisan juga memungkinkan adanya beragam versi yang hidup secara bersamaan. Karena itu, tulisan-tulisan dalam buku ini hendaknya dipandang sebagai upaya pendokumentasian dan pengenalan awal yang masih terbuka untuk diperkaya melalui penelitian, kesaksian pelaku budaya, serta pengalaman masyarakat setempat.



Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan yang telah membantu proses penerbitan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, pendidik, peneliti, komunitas budaya, dan masyarakat umum; serta mendorong pembaca untuk mengenal, memainkan, dan mewariskan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. Kritik, saran, dan koreksi sangat kami harapkan demi penyempurnaan pada penerbitan

berikutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asu Panting Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng

   ============================================== J udul: Asu Panting  Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng Penulis:  Hilman Editor:   Damar I Manakku Desain Sampul & Tata Letak:  Ramadhan S Penerbit:  Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Cet. I, Septeber 2025 viii + 229 hlm ; 14 x 20  cm ==================================== KATA PENGANTAR Mitos selalu hadir sebagai cermin kegelisahan manusia. Ia lahir dari perjumpaan antara rasa takut, imajinasi, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asu Panting , misalnya, sebuah cerita yang akhir-akhir viral di media sosial sebetulnya bukan sekadar kisah tentang makhluk gaib, melainkan penanda bagaimana masyarakat Bugis-Makassar membingkai relasi mereka dengan alam, dengan kegelapan, dan dengan dunia yang tak kasat mata. Sebagai penulis yang selama ini juga menaruh perhatian pada tradisi lisan, narasi rakyat, dan sejarah lokal, saya memandang buku ini penting buk...

Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan

  =================== Judul: Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan Penulis: Dr. Salam, M.Pd. Tata Letak: Muh. Syakir Fadhli Desain Sampul: Shakiru Daichi Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Tahun Terbit: 2024 Dimensi Cetak: 15.5 x 23 cm ===================   Buku ini diniati sebagai bahan ajar mahasiswa yang merangkum beberapa materi perkuliahan Psikologi Pendidikan di perguruan tinggi dengan menawarkan Konsep Dasar dan Tujuan sebagai rujukan sumber belajar yang akan dicapai sebagai berikut. Pertama, Buku ini diampuh oleh dosen pengampuh Matakuliah Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar,   Dr. Salam, M.Pd.        Kedua, Buku ini semula merupakan bahan perkuliahan psikologi pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia. Buku ini   disusun dalam 8 bab sebagai bahan ajar   mahasiswa yang terdiri dari 8 materi ajar setiap babnya. Bab 1 membahas mengenai konsep dasar dan tujuan psikologi pendidi...

Daeng Kanduruan, Guru yang Menulis Karya Sastra dan Aktif dalam Pergerakan

Ilustrasi tirto.id Penerbitpakalawaki.com- Pendidikan adalah upaya menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu pelaku dalam usaha ini tentu saja guru. Setiap tanggal 25 November yang jatuh pada esok hari, pemerintah memperingatinya sebagai Hari Guru. Hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden no. 78 tahun 1994. Salah seorang tokoh pendidikan sastrawan dan aktivis pergerakan yang kiranya jarang diketahui publik nasional adalah Daeng Kanduruan Ardiwinata (1866-1947).  Sang Kanduruan Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979, hlm.1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Kakeknya yang bernama Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lompo (besar) dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman, dan kakanya, Karaeng Balasuka.  Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempe...