Menghidupkan Tradisi Pertanian: Eksplorasi dan Kajian Konsepsi Pengolahan Sawah Masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan
Judul:-
Menghidupkan Tradisi Pertanian: Eksplorasi dan Kajian Konsepsi Pengolahan Sawah Masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan
Penulis:
Abd. Karim
Editor:
Ferdhiyadi
Desain Sampul & Tata Letak:
Damar I Manakku
Penerbit:
Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan
Sering kali tradisi diromantisasi dalam riset-riset kebudayaan, berbagai macam kedok digunakan untuk menjadikan sebuah tradisi terlihat menjadi produk masa lalu yang unik dan wajib untuk dilestarikan. Tentu saja kebudayaan wajib untuk dilestarikan akan tetapi tidak dengan dalam kerangka meromantisasi masa lalu. Bagian terpentingnya adalah mengungkap narasi kontemporer yang hidup dalam masyarakat dan pengaruh tradisi terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat terutama yang terkait dengan kesejahteraan.
Terlebih lagi, Indonesia sedang dalam upaya untuk membangun kemandirian pangan meskipun upaya tersebut memperoleh banyak kritik dari ahli dan akademisi. Kritik ini lahir karena upaya swasembada justru terlihat reduksionis. Misalnya upaya peningkatan produksi padi dengan menempatkan lahan dan padi dalam instrumen ekonomi tanpa mempertimbangkan faktor ekologis dan kebudayaan. Langkah paling jelas yakni pembukaan lahan sawah yang berlebihan dan upaya meningkatkan intensitas panen. Keduanya terlihat optimis dalam pembangunan ekonomi tetapi jika tidak dengan pertimbangan matang dalam aspek ekologi dan kebudayaan maka akan menimbulkan ketimpangan. Akhirnya akan melahirkan dua kubu yang terus bertentangan, dalam hal ini keberpihakan akan ditentukan oleh pijakan masing-masing.
Buku ini hadir bukan untuk meromantisasi masa lalu tetapi merupakan sebuah ikhtiar akademis untuk melakukan rekontekstualisasi kritis terhadap sistem pengetahuan sosial-ekologis yang kian terpinggirkan oleh arus zaman. Fokus penelaahan diarahkan secara spesifik pada bagaimana masyarakat Bugis di lima wilayah Sidenreng Rappang, Wajo, Soppeng, Pangkep, dan Barru dengan membaca, mengelola, dan memaknai lanskap persawahan mereka.
Selama ini, literatur antropologi agraria di Indonesia kerap terjebak dalam jebakan epistemologis yang seragam yakni melihat ritual pertanian lokal sebagai wujud keharmonisan yang statis atau jembatan vertikal antara manusia dengan entitas transendental. Buku ini berupaya membongkar simplifikasi tersebut. Dengan menyandingkan eksplorasi etnografis yang mendalam bersama data kuantitatif perubahan produksi padi periode 2018–2025, buku ini mendudukkan sawah sebagai ruang epistemik yang dinamis.
Kontestasi antara rasionalitas modern dengan narasi spiritualistik masyarakat yang masih hidup dipaparkan untuk melihat kenyataan kontemporer. Dimana produksi padi masyarakat lokal tidak semua ditentukan dengan kalkulasi matematis yang kaku, tetapi memori kebudayaan masyarakat juga berkontribusi dalam proses produksi. Selain itu, memori kebudayaan tidak hanya bekerja untuk mempertahankan produksi tetapi juga untuk menjaga alam bahkan menciptakan keharmonisan dalam masyarakat.
Kontribusi kritis buku ini terdapat pada bagian akhir yang kerap diabaikan oleh para peneliti naskah lokal. Manuskrip Meongpalo Karellae bukan sebagai teks yang berisi kearifan, melainkan juga sebagai sebuah panggung representasi kekerasan simbolik manusia terhadap alam. Kisah tersebut menggambarkan manusia di masa lalu sebagai aktor antagonis yang superior, arogan, dan eksploitatif terhadap entitas non-manusia, baik hewan (kucing) maupun tumbuhan (padi). Konsekuensinya, ritual sakral seperti Maddoja Binetidak lagi dibaca secara dangkal sebagai komunikasi spiritual semata. Ritual tersebut adalah bentuk artikulasi horizontal yang profan yakni sebuah pengakuan dosa kolektif atas ketamakan manusia terhadap ruang hidupnya. Etika lingkungan yang hidup dalam ingatan kultural masyarakat Bugis justru lahir dari trauma mitologis akan perginya Dewi Padi akibat keangkuhan manusia. Kesadaran ekologis lokal ini mengajarkan bahwa kelestarian alam hanya bisa dirawat jika hasrat eksploitasi ditekan.
Karya ini dipersembahkan sebagai sebuah undangan terbuka untuk mendiskusikan kembali masa depan ketahanan pangan kita yang tidak boleh dilepaskan dari kohesi sosial dan kearifan lingkungan lokal. Penulis mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam kepada seluruh informan yang bersedia untuk memberi informasi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan seluruh tim manajemen Danaindonesiana 2024 yang telah membuka ruang dan mendukung penuh pendanaan kajian objek pemajuan kebudayaan ini.

Komentar
Posting Komentar