Revitalisasi Pendidikan Vokasi Di Indonesia

 


==========================================================

Judul    : Revitalisasi Pendidikan Vokasi Di Indonesia

Penulis : Seni Astria, S.T., M.Kom
Desain Sampul & Tata Letak  : Damar I Manakku
Tebal halaman: 104 halaman
Ukuran buku : 15 x 23,5 cm
ISBN ; ( Masih dalam proses)
Genre : Pendidikan
Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan
Harga  : -
Website: www.penerbitpakalawaki.com

====================== ====================================

Dalam filosofi pendidikan dikenal empat istilah, yaitu: metafisika, epistimologi, axiologi, dan logika[1]. Pemikiran para philosopher di atas sangat terkait dengan istilah filosofi tersebut. Metafisika membahas alam nyata/ kenyataan. Dalam pendidikan, metafisika ini berkaitan terutama konsep realitas yang direfleksikan pada mata pelajaran, kegiatan praktik dan keterampilan dalam kurikulum. Epistimologi membahas pengetahuan (knowledge) dan apa yang diketahui/pahami (knowing), yang berarti sangat terkait dengan metode dalam proses belajar mengajar. Axiologi berhubungan dengan nilai (value) yang terkait dengan moral (etika) serta keindahan dan seni (estetika). Logika berkaitan kemampuan menjawab dan alasan dengan benar.

Jika dikaitkan dengan istilah-istilah di atas, aliran pemikiran para philosopher di atas dapat dipilahkan dengan jelas. Dalam pandangan philosopher idealisme, kenyataan sangat terkait dengan mental dan dapat berubah, pengetahuan merupakan pemikiran yang dapat berubah, dan nilai merupakan harga mutlak dan abadi. Pandangan aliran realisme, kenyataan merupakan tujuan yang disusun berdasarkan hukum alam, pengetahuan merupakan sensasi dan abstrak, dan nilai merupakan harga mutlak dan abadi sesuai hukum alam. Pandangan aliran pragmatisme, kenyataan merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan atau pengalaman dan hal ini selalu berubah, pengetahuan merupakan hasil pengalaman berdasarkan metode ilmu pengetahuan, dan nilai merupakan situasional dan relatif. Pandangan aliran eksistensialisme, kenyataan sangat subyektif, pengetahuan untuk pilihan pribadi, dan nilai adalah bebas memilih. Berdasarkan uraian di atas, aliran pemikiran para philosopher yang sesuai untuk pengembangan pendidikan vokasi adalah realisme dan pragmatisme. Pendidikan vokasi merupakan proses pembelajaran yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja setelah menyelesaikan studinya. Hal ini berarti pendidikan vokasi merupakan kondisi nyata yang dibentuk untuk mewujudkan pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan dalam bekerja. Dengan demikian, dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi, kurikulum pendidikan vokasi (dalam arti metafikasi) selayak disusun sesuai kenyataan yang dibutuhkan untuk bekerja, metode dalam proses belajar mengajar (dalam arti epistemologi) juga disesuaikan dengan kondisi seperti bekerja, dan memiliki nilai hasil (dalam arti axiologi) yang diharapkan sesuai dengan tuntutan pasar kerja.  Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang  dirancang untuk mengembangkan          keterampilan, kemampuan atau kecakapan, pemahaman, sikap, kebiasaan-kebiasaan kerja, dan apresiasi yang diperlukan oleh pekerja dalam memasuki pekerjaan dan membuat kemajuan-kemajuan dalam pekerjaan penuh makna dan produktif. Saat ini, pendidikan kejuruan dan vokasi memerlukan formulasi yang aktual dan kontekstual berdasarkan konteks waktu dan ruang yang ada. Dalam perkembangannya di Indonesia, pendidikan vokasi terus saja menarik untuk didefinisikan dan direformulasi kembali, termasuk diredesain. Dalam arti, isinya terus disesuaikan dan definisinya pun dikembangkan dan disesuaikan dengan visi dan misi pendidikan vokasi suatu bangsa atau negara.

Pendidikan kejuruan dan vokasi bagi kaum pragmatis adalah penyelarasan akan kebutuhan pekerjaan dan keterampilan atau kompetensi soal apa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan tersebut. Pendidikan kejuruan dan vokasi menjadi selalu dinamis dan bahkan harus adaptif dengan perubahan kebutuhan pekerjaan itu sendiri. Filosofi ini kemudian memunculkan teori demand driven sebagai pengganti supply driven. Pragmatisme mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. Pragmatisme menyatakan bahwa di antara pendidik dan peserta didik bersama-sama melakukan learning process, menekankan kepada kenyataan atau situasi dunia nyata, konteks dan pengalaman menjadi bagian sangat penting, pendidiknya progesif dan kaya akan ide-ide baru. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak, tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi, melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkret. Pragmatisme melihat nilai pengetahuan ditentukan oleh kegunaannya di dalam praktik. Karenanya, teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak, bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandek dalam teori itu sendiri. Teori yang tepat adalah teori yang berguna, siap pakai, dan dalam kenyataannya berlaku, serta memungkinkan manusia bertindak secara praktis. Kebenaran suatu teori, ide, atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak, melainkan didasarkan pada pengalaman, pada konsekuensi praktisnya, dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya.  Pendeknya, ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas  yang dinyatakan dalam teori tersebut. Realita tersebut sejalan dengan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan ungkapan “ngelmu tanpa laku kothong, laku tanpa ngelmu cupet” yang bermakna ilmu tanpa keterampilan menerapkan adalah kosong, sebaliknya keterampilan tanpa ilmu atau teori pendukung menjadi kerdil. Artinya, paling penting adalah bagaimana pendidikan kejuruan dan vokasi agar sejalan dan senada (link and match) dengan kebutuhan DUDI, perubahan dan kolaborasi harus dilakukan jika awalnya hanya dituntut menerima hasilnya saja dan harus menyerap lulusan vokasi. Keniscayaannya adalah peran penting DUDI adalah dari Awal sampai akhir (start from the end).

 

I.1.     Hakikat Pendidikan

Dalam sebuah kutipan[2] pengertian pendidikan menurut

H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Dan menurut Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara, menjelaskan bahwa pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dan dalam UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah proses pengembangan diri manusia dalam keseluruhan aspek manusia itu sendiri untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih baik agar dapat mencapai tujuan-tujuan hidupnya.

Untuk memahami hakikat pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang[2]: yang pertama sudut pandang masyarakat, dimana pendidikan berarti sebuah proses pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda yang bertujuan agar hidup masyarakat tetap berlanjut, atau dengan kata lain agar suatu masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang senantiasa tersalurkan dari generasi ke generasi dan senantiasa terpelihara dan tetap eksis dari zaman ke zaman. Kedua pendidikan dari sudut pandang individu di mana pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi dalam diri setiap individu untuk agar individu tersebut menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi individu lainnya.

Namun demikian proses sebuah pendidikan akan sangat tergantung dari motivasi dan tujuan individu itu sendiri. Kepakaran yang diakibatkan akibat oleh proses sebuah pendidikan akan menuju ke dua arah yaitu kepakaran untuk tujuan-tujuan baik dan kepakaran untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Sehingga pada akhirnya untuk kemaslahatan, proses pendidikan keahlian individu atau kelompok harus dibarengi dengan proses peningkatan kualitas rohani dan mental dari individu atau kelompok itu sendiri.

Dengan demikian hakikat pendidikan adalah interaksi yang seimbang antara subjek didik dengan kewibawaan pendidik untuk meningkatkan kualitas hidup dengan menerapkan proses pembelajaran dan prinsip-prinsip keilmuan yang berasas ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, berkebudayaan dan tanpa paksaan.


Komentar