Langsung ke konten utama

Ise Baki: Bingkisan Untuk Hari Jadi Bone ke 692



                                                        ==========================

PenulisFeby Triadi, dkk
Desain Sampul & Tata Letak  : Damar I Manakku
Tebal halaman: 79 halaman
Ukuran buku : 14,8 x 21 cm
ISBN ; ( Masih dalam proses)
Genre : Pendidikan
Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan
Harga  : -
Website: www.penerbitpakalawaki.com

====================== =======

Bissu, “You’ll Never Walk Alone.”

 

Syamsurijal Ad'han

 

Peneliti BRIN

 

Apa yang salah dengan tidak hadirnya Bissu dalam peringatan hari jadi Kabupaten Bone yang ke-692? Bukankah ketidakhadiran adalah hal yang biasa, sebagaimana lumrahnya sang pacar yang tidak muncul di acara ulang tahun kita? Tetapi, mengapa respon para pemerhati budaya terlihat begitu prihatin dan emosional dengan absennya para Bissu tersebut 

Lahirnya tulisan dalam buku ini pun, saya rasa, tak lain adalah wujud dari keprihatinan tersebut. Kegundahan disusun menjadi rangkaian kalimat, lalu terbitlah buku ini yang disebut “Ise Baki: Bingkisan Untuk Hari Jadi Bone ke-692.” Padahal, sesungguhnya, adalah kado pahit untuk ulang tahun kabupaten Bone. 

Ketidakhadiran Bissu dalam perayaan tersebut, memang tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, Bissulah selama ini yang mengawal rangkaian acara sakral dalam peringatan hari jadi Bone. Mereka memimpin proses Mattompang Arajang (mencuci pusaka) dan Maleko Toja (mengambil air). Para Bissu pulalah yang biasanya membawa baki, mengusung barang pusaka pada puncak acara. 

Selain itu, Bissu dalam kebudayaan Bugis merupakan sosok penting. Dalam I La Galigo, Bissu adalah orang yang menyertai turunnya Batara Guru dan tokoh lainnya ke dunia tengah. Ia menjadi salah satu penanda awal munculnya peradaban di dunia tengah. Para Bissu yang oleh Sharyn Graham Davies ditempatkan sebagai gender kelima, adalah penyambung spiritual dalam berbagai ritual masyarakat Bugis



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asu Panting Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng

   ============================================== J udul: Asu Panting  Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng Penulis:  Hilman Editor:   Damar I Manakku Desain Sampul & Tata Letak:  Ramadhan S Penerbit:  Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Cet. I, Septeber 2025 viii + 229 hlm ; 14 x 20  cm ==================================== KATA PENGANTAR Mitos selalu hadir sebagai cermin kegelisahan manusia. Ia lahir dari perjumpaan antara rasa takut, imajinasi, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asu Panting , misalnya, sebuah cerita yang akhir-akhir viral di media sosial sebetulnya bukan sekadar kisah tentang makhluk gaib, melainkan penanda bagaimana masyarakat Bugis-Makassar membingkai relasi mereka dengan alam, dengan kegelapan, dan dengan dunia yang tak kasat mata. Sebagai penulis yang selama ini juga menaruh perhatian pada tradisi lisan, narasi rakyat, dan sejarah lokal, saya memandang buku ini penting buk...

Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan

  =================== Judul: Konsep Dasar dan Tujuan Psikologi Pendidikan Penulis: Dr. Salam, M.Pd. Tata Letak: Muh. Syakir Fadhli Desain Sampul: Shakiru Daichi Penerbit: Pakalawaki Penerbitan dan Percetakan Tahun Terbit: 2024 Dimensi Cetak: 15.5 x 23 cm ===================   Buku ini diniati sebagai bahan ajar mahasiswa yang merangkum beberapa materi perkuliahan Psikologi Pendidikan di perguruan tinggi dengan menawarkan Konsep Dasar dan Tujuan sebagai rujukan sumber belajar yang akan dicapai sebagai berikut. Pertama, Buku ini diampuh oleh dosen pengampuh Matakuliah Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar,   Dr. Salam, M.Pd.        Kedua, Buku ini semula merupakan bahan perkuliahan psikologi pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia. Buku ini   disusun dalam 8 bab sebagai bahan ajar   mahasiswa yang terdiri dari 8 materi ajar setiap babnya. Bab 1 membahas mengenai konsep dasar dan tujuan psikologi pendidi...

Daeng Kanduruan, Guru yang Menulis Karya Sastra dan Aktif dalam Pergerakan

Ilustrasi tirto.id Penerbitpakalawaki.com- Pendidikan adalah upaya menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu pelaku dalam usaha ini tentu saja guru. Setiap tanggal 25 November yang jatuh pada esok hari, pemerintah memperingatinya sebagai Hari Guru. Hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden no. 78 tahun 1994. Salah seorang tokoh pendidikan sastrawan dan aktivis pergerakan yang kiranya jarang diketahui publik nasional adalah Daeng Kanduruan Ardiwinata (1866-1947).  Sang Kanduruan Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979, hlm.1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Kakeknya yang bernama Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lompo (besar) dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Ia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman, dan kakanya, Karaeng Balasuka.  Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempe...